Jumat, 23 November 2007
Mengalihkan konsentrasi utk menghalau nafsu
(terima kasih banyak buat mas koko yg telah memberi ijin utk dipublish disini)
Mungkin kita pernah mengalami hal seperti ini: ingin buang air besar (BAB), tiba-tiba ada telepon, ada sanak saudara meninggal dunia. Rumahnya tak jauh dari kediaman kita. Lupa sudah urusan buang hajat. Kita langsung menuju rumah saudara tersebut. Lupa sudah keinginan untuk BAB, sama sekali lupa. Atau mungkin pernah juga, kita sedang kelaparan, ingin sekali makan. Tiba-tiba ada kabar, ibu mengalami kecelakaan. Kita langsung menuju ke rumah sakit dengan berjuta kekhawatiran. Lupa sudah urusan perut. Sore hari, ketika kondisi ibu sudah jelas; Cuma lecet-lecet, tidak parah, kita baru sadar, ”saya belum makan tadi siang.”
Saya yakin, kita semua pernah mengalami kejadian sepertri di atas. Ada peristiwa, kabar, atau apalah yang menyedot konsentrasi. Kita lalu melupakan keinginan kita, nafsu kita, untuk kemudian melakukan hal lain. Agak aneh secara logika. Kok bisa kita jadi lupa BAB atau makan, padahal sebelumnya pengen banget, tak bisa ditahan. Tapi nyatanya kita bisa beralih pada aktivitas lain, melupakan urusan yang sebetulnya berasal dari hawa nafsu.
Ini membuktikan, bahwa kita sebenarnya bisa, sangat bisa mengelola hasrat, keinginan, menundukkan hawa nafsu. Ketika tergoda untuk melakukan kemaksiatan, kita bisa berkonsentrasi pada hal lain untuk meredamnya. Ketika peluang dosa di depan mata, kita sebenarnya bisa menampik, melakukan hal lain yang bukan dosa.
Tapi yang terjadi adalah, kita seringkali menjerumuskan diri pada kemaksiatan, tanpa berusaha untuk mengalihkan konsentrasi pada kebaikan. Terlebih lingkungan sangat mendorong kita untuk melakukan hal tersebut. Misalnya seorang laki-laki yang setia pada istrinya, didorong untuk selingkuh oleh rekan kerjanya. Di sebuah pesta, rekan kerja memperkenalkannya pada gadis yang secara lahiriah cantik luar biasa, sangat menggoda. Ia terpikat, terbuai bujuk rayu. Rekan kerja mengompori, ”sikat saja, cukup one night stand!” Si lelaki dan perempuan cantik mulai menyepi. Hasrat bergelora, nafsu meraja. Ia tak berusaha mengalihkan konsentrasi pada istri di rumah: yang setia menjaga harta, merawat anak penuh cinta, merawat jiwa raga tak kenal lelah, mengucap kembali kasih sebelum suami berkata terima kasih, melayani kapan saja di mana saja. Si lelaki lupa. Tidak berusaha mengingat, istri di rumah punya apa yang perempuan itu punya. Istri bisa memberi apa yang perempuan cantik itu beri. Istri juga punya madu, semanis, lebih manis dan bernilai pahala. Malam itu, si lelaki melakukan hal yang seharusnya bisa ia tahan.
Kenapa bisa begitu? Kenapa kita terkadang lebih memilih makan siang dulu daripada shalat dengan apologi ”ada hadistnya tuh, lebih baik makan dulu daripada shalat. Nanti pas shalat malah mikirin makanan.” Kenapa kita tidak ingat ”sebaik-baiknya shalat adalah shalat di awal waktu.” Kenapa justru urusan nafsu yang kita dahulukan.
Penyebabnya adalah: kita belum meresapi makna ”hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS 1:5) juga makna, ”Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS 112:2). Kita kurang berkonsentrasi pada cinta-Nya. lebih mengedepankan nafsu dalam segala urusan.
Andai ketika nafsu meraja kita mengalihkan konsentrasi, ingat ’hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,’ mungkin kita dapat melawan nafsu, memerangi bisikan setan yang mengepung dari segala penjuru. Mengubah peluang dosa menjadi peluang pahala, meretas jalan menuju surga.
Apakah akan berhasil? Wallahu’alam. Kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin. Bukankah Allah menilai proses, bukan hasil. Saya mendapat ide mengalihkan konsentari ini dari Ustadz Jajang di pengajian bulanannya. Siapa tahu berguna bagi teman-teman semua, mau mencoba. Dan saya juga tertarik untuk mencobanya; ketika ingin bermaksiat, alihkan konsentrasi pada hal lain.
sumber : http://kokonata.multiply.com
(Parenting) Anakku tidak bisa dilarang

By Kirdi Putra
(Kenapa si kecil terbiasa melawan orang tua ya...)
“Aduuh, kenapa ya setiap kata-kata saya, setiap perintah saya, setiap ajakan saya, pasti dilawan atau dibantah...”, termasuk anggota perkumpulan orang tua yang pernah mengucapkan kata-kata yang semodel atau bahkan sama persis seperti itu? Mungkin anda tidak perlu terlalu khawatir, itu cuma sebuah pertanda, pertanda bahwa anda siap bergabung di dunia orang tua (Parent’s World). Saran saya, hadapi dengan tersenyum dahulu.
Sebetulnya, ada pola kenapa seorang anak (terlihat) tidak bisa dilarang ketika ia menginginkan sesuatu. Pola yang sebenarnya juga bagian dari program atau ciptaan kita, yang menjadi lingkungan pembentuk anak kita tersebut. Kok bisa seperti itu ya? Sekali lagi, bisa, karena banyak faktor (faktor sifat, yang mempengaruhi lingkungan, faktor kebiasaan dari kecil, faktor toleransi di keluarga, faktor informasi yang masuk ke pikirannya, dll). Semua faktor-faktor ini dibentuk dan terbentuk di dalam pikiran bawah sadar anak tersebut. Pikiran bawah sadar? Iya, sebuah mekanisme yang seperti kertas putih ketika seorang anak baru saja dilahirkan, dan sedikit-demi sedikit tergambar menjadi peta, sejalan dengan semakin dewasanya anak tersebut. Setiap hal yang sudah diketahui anak itu akan berjalan sesuai dengan arah garis jalanan yang tergambar di peta itu. Contohnya? Bukankah kalau kita pergi dari rumah ke kekantor kita (cenderung) menggunakan jalan yang itu-itu saja bukan? Itu tandanya, rute kita sudah masuk ke pikiran bawah sadar kita (sudah menjadi refleks).
Jadi, kalau sudah pikiran bawah sadar anak saya tertulis ”tidak bisa dilarang” gimana dong? Pertama, yakinlah bahwa tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, jadi, bukan TIDAK bisa dilarang, namun kita BELUM menemukan CARANYA. Ada beberapa faktor yang mungkin harus diubah, yaitu:
1. Kata-kata yang kita gunakan untuk melarang
Gunakan kata-kata yang bersifat ajakan positif ketika kita ”melarang” anak kita, serta masih diberikan pilihan (yang kita tentukan, tetapi intinya dia masih punya pilihan).
Contoh:
Daripada ”Jangan bermain terus, kapan kamu belajarnya”
Gunakan ”Ayo kita belajar, kita bisa bermain lagi kan setelah belajar”
Daripada ”Jangan nakal begitu, ibu marah kalau kamu begitu”
Gunakan ”Kamu kan anak baik, kamu bisa kan begini?”
2. Cara yang kita gunakan untuk melarang anak kita
Siapapun tidak suka lho di tekan dan diHARUSkan (coba, anda suka kah di tekan dan diHARUSkan? Tidak diberi pilihan sama sekali? Gunakan intonasi suara yang tidak mengintimidasi (menurut anak kita, bukan menurut kita), gunaka bahasa tubuh yang tegas namun bersahabat. Caranya? Komunikasikan dulu, ajak dia diskusi dalam suasana yang (kita dan dia tahu) bersahabat. Ajarkan anak untuk belajar diskusi dan negosiasi semenjak dini, tetapi tetap melihat orang tua sebagai figur pemimpin. Tanyakan pendapat dia ”gimana sih caranya ayah/ibu untuk ajak kamu lakukan ini/itu?”
Mungkin tips sederhana ini bisa diterapkan, walaupun memang masalah diseputar anak kita cukup kompleks, karena juga terkait dengan tipe dan karakter anak, cara berpikir anak, dan masih banyak lainnya. Untuk saat ini, selamat bertualang di dunia orang tua...
Kirdi Putra, CHI, CHt.
Hypnotherapy Coach
Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)
Phone. +62 21 739 7916
kirdi18@yahoo.com.sg
For things to change, I have to change
(pengalaman) iseng2 berhadiah
Hari yg ditunggupun tiba. Peserta tidak begitu banyak, aku lupa berapa, mungkin sekitar 12 - 15 orang dan aku peserta ke-8. Melihat penampilan peserta 1 - 7 membuat aku agak maju mundur. Bagaimana tidak, mereka benar2 mempersiapkan diri dengan segala macam alat bantu, sedangkan aku ? hanya bermodal 3 macam karakter suara yaitu suara narator, kakek dan anak kecil, karena memang cuma itu tokohnya. Akupun belum pernah ikut lomba membaca dongeng. Ya sudah, kepalang tanggung, maju terus pantang mundurlah. Demam panggung ?? menit2 pertama iya, berikutnya aku nikmati saja sambil memandang ke penonton.
Singkat cerita tibalah saat yg dinantikan yaitu pengumuman pemenang. Aku bilang sama suami, "pulang yuk, ga usah ditunggu, udah ketebak siapa yg menang, mereka bagus2". Tapi suami mengajak aku menunggu sampe urutan pemenang ke 2, suami masih berharap aku juara harapan 1 atau 2. Ternyata tidak.
Ketika pengumuman pemenang ke 2 disebutkan, aku gandeng suami untuk keluar dari kerumunan, dan dengan perlahan kami menerobos. Masih aku dengar sang MC akan mengumumkan pemenang pertama, dan langsung aku tebak, pasti si mbak yg itu atau si mas yg anu. "pemenangnya adalah peserta dengan nomor 0XXX" (aku lupa, yg pasti ada 4 angka). "hah ?!" aku langsung melihat ke arah nomor yg masih menggantung dileher, itukan nomorku..........waaaaaaaaaa aku juara 1 ????? ga percaya..........tapi memang itu nomorku. AKu begitu terharu. Terima kasih ya Tuhan..... Aku pernah beberapa kali menjadi juara namun lomba kali inilah yg sungguh diluar dugaanku, dan itu tak akan pernah aku lupakan. Hadiahnya ? memang tidak seberapa namun pengalamannya yg sangat berharga.
Kamis, 22 November 2007
( Parenting )anakku obesitas

by kirdi putra.
Anakku laki-laki, umur 11 tahun mengalami obesitas. Dengan berat 60kg dan tinggi 130cm.
Kenapa anak bisa obesitas?
Waduh, sebuah pertanyaan yang mungkin bisa lebih baik dijawab oleh seorang dokter atau seorang ahli gizi... mungkin saya sekedar membantu dengan sedikit informasi yang memang kita miliki. Menurut penelitian oleh para ahli, pola hidup anak sekarang (pola makan dan pola bergerak) memberikan sumbangan yang cukup besar pada kecenderungan seorang anak mengalami obesitas. Junk food dan video games yang berlebihan merupakan kombinasi yang menarik (sebuah kata lain untuk, sempurna) dalam memupuk kecenderungan obesitas tersebut. Jumlah kalori yang besar yang terkadung di dalam seporsi makanan siap saji mampu menambah sejumlah penimbunan kadar lemak didalam tubuh, apalagi bila seorang anak hampir setiap hari mengkonsumsi makanan seperti ini. Juga dengan pola bergerak yang semakin kecil, dimana banyak terjadi, seorang anak lebih suka bermain dengan video games nya di rumah ketimbang harus berolah-raga dan bersosialisasi di luar. Banyak anak sekarang yang lebih memilih bermain bola di video games ketimbang harus bermain bola sungguhan di lapangan. Ini sekedar contoh, bahwa pola makan yang sudah mendukung munculnya obesitas, ditambah dengan terjadinya kemalasan gerak pada anak kita?
Tidak bisa disangkal pula, menurut para ahli, ada peranan gen (DNA, informasi genetis) didalam kecenderungan seseorang mengalami obesitas atau tidak, tetapi pola makan dan pola gerak tetap memegang peranan kunci dalam perkembangan obesitas pada diri seseorang. Berdasarkan berbagai informasi singkat ini, lebih mudah bagi kita, untuk membantu anak kita mengubah pola makan dan pola geraknya dibandingkan harus berpikir untuk mengubah struktur gen nya kan?
Apa ada terapi non obat?
Terapi non obat? Banyak jalan untuk menuju sebuah goal, banyak cara untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Ada beberapa kemungkinan terapi non obat, saat ini bisa dengan menggunakan pola pengobatan tradisional alami (herbal), bila yang dimaksud dengan obat adalah bahan-bahan kimia sintetis, atau misalnya dengan akupunktur, jika sama sekali tidak mau menyentuh bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui mulut, juga bisa dengan mengubah pola pikir dan tingkah laku (behaviour) untuk mengubah pola makan dan pola bergerak dari anak. Mungkin dengan pendekatan hypnotherapy juga bisa membawa perubahan pada beberapa pola tersebut. Pada intinya, kita mulai mengubah pola pikir anak tentang makanan dan olah raga. Seorang anak bukan tidak mampu untuk mengubah pola makan dan geraknya, tetapi seringkali mereka belum menyadari pentingnya mengatur pola makan dan pola gerak (terlebih untuk anak yang sudah mengalami obesitas).
Nah, cara menerangkan kebanyakan orang tua pada anak yang menggunakan pendekatan pola pikir orang yang sudah dewasa, itu yang membuat tulalit (tidak nyambung). Jadi, kita diharapkan untuk mengubah cara kita mendekati dan menerangkan mengapa:
• Pola makan harus berubah menjadi makanan sehat, dengan jumlah yang terbatas
• Pola gerak yang harus dimulai, dengan berbagai aktivitas outdoor dan
mengurangi kegiatan yang tidak banyak memerlukan gerak (video game, dll)
Yang keduanya disampaikan dengan cara yang sesuai dengan pemahaman (database) pikiran anak, dan dengan cara yang fun, serta tujuan yang jelas (serta mampu mengispirasi anak untuk mau mengerjakannya tanpa disuruh apalagi diancam).
Pengetahuan inilah yang dibutuhkan oleh kita sebagai orang tua, karena perubahan kebiasaan bukanlah merupakan hal yang mudah, bahkan untuk kebanyakan orang yang telah dewasa, apalagi harus diterapkan pada seorang anak. Pengetahuan dan pengertian untuk menjelaskan dan mengajak anak melakukan perubahan kebiasaan inilah yang akan menentukan masa depan anak-anak kita kelak.
Tunggu apa lagi, mulailah dari sekarang, mari kita ciptakan generasi yang cerdas dan sehat...
Kirdi Putra, CHI, CHt.
Hypnotherapy Coach
Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)
Phone. +62 21 739 7916
http://htii.blogspot.com/
For things to change, I have to change
Mengenal Phobia dan Panic Attack

Rasa panik merupakan bagian yang penting dari sistem pertahanan tubuh. Tetapi, seringkali hal ini menjadi lebih serius, contohnya ketakutan yang tidak rasional atau pun panic attack. Di saat tertentu, seseorang dapat merasa panik dengan alasan yang tepat. Misalnya, apabila sebuah mobil tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi pada saat kita sedang menyeberang jalan. Merasa panik dalam situasi seperti itu adalah normal. Kita dapat tiba-tiba berlari dengan kencang.
Tetapi, bagaimana bila kejadian sehari-hari yang tidak berbahaya juga mendatangkan respon yang sama? Atau lebih buruk lagi, apabila Anda mengalami kepanikan tanpa alasan yang jelas dan tanpa ada tanda-tanda sebelumnya? Meski terdapat beberapa orang yang menikmati rasa takutnya - misalnya dengan menaiki roller-coaster, sebagian lainnya bahkan tidak mengerti mengapa mereka merasa takut atau apakah serangan kecemasan yang mereka alami akan mereda.
Fobia yang Umum
Fobia terjadi karena berbagai alasan. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat memacunya:
-- pergi ke dokter gigi
-- terbang
-- darah
-- fobia sosial
-- agoraphobia (takut akan ruang terbuka).
Ketika seseorang dengan fobia bertemu dengan hal yang mereka takuti - atau tahu bahwa mereka akan merasa takut - mereka mengembangkan gejala-gejala kecemasan fisik tertentu. Kecemasan terdiri dari sekumpulan gejala dan tiap orang memiliki pola gejala yang berbeda.
Bagi banyak orang, hal ini cukup untuk membuat mereka benar-benar menghindari apa pun yang mereka takuti sepanjang hidup mereka. Tetapi terkadang, hal itu tidak dapat dihindari dan orang tersebut terpaksa masuk ke dalam situasi yang mereka takuti. Contohnya, seseorang (fobia dokter gigi) tidak pergi ke dokter gigi selama bertahun-tahun, padahal sebenarnya ia sangat membutuhkan perawatan gigi atau seseorang (fobia darah) yang mengalami kecelakaan. Apabila demikian, rasa panik sering terjadi.
Kata ‘sering' sangat penting dalam hal ini - rasa panik bukanlah sesuatu yang dapat diperkirakan dan tidak selalu terjadi. Banyak orang dengan fobia mengagetkan diri mereka sendiri dengan melewati situasi yang biasanya membuat mereka takut, sekalipun mereka tetap merasa tidak senang.
Gejala-Gejala Panic Attack
Bagi mereka yang merasa panik, gejalanya adalah sebagai berikut:
-- Jantung berdebar kencang
-- Kesulitan mengatur napas
-- Dada terasa sakit
-- Wajah memerah dan berkeringat
-- Merasa sakit
-- Gemetar
-- Pusing
-- Mulut terasa kering
-- Merasa perlu pergi ke toilet
-- Merasa lemas
Pengalaman ini dapat terjadi dengan sangat cepat sampai seseorang bahkan merasa bahwa mereka sedang mengalami serangan jantung. Meskipun, kekuatiran ini justru rasa panik itu sendiri. Beberapa orang dapat juga merasa bahwa reaksi tubuh mereka sangat ekstrim dan sangat tidak terkontrol. Bahkan, mereka merasa hanya sebagai pengamat dari apa yang terjadi pada tubuh mereka sendiri. Meskipun mereka tidak menjelaskan pengalaman di luar tubuh, mereka mendeskripsikan perasaan seolah-olah terpisah dari apa yang sedang terjadi. Atau seolah-olah seluruh situasi yang mereka alami tidak lah nyata.
Hal ini mengacu pada ‘depersonalisasi'. Kata itu terdengar lebih melegakan dibanding serangan panic attack, padahal hal itu bahkan lebih tidak menyenangkan. Terdapat sekelompok orang lainnya yang mengalami panic attack secara spontan. Hal ini biasanya dihubungkan dengan kecemasan umum - gejala ini dapat memuncak apabila terus menerus berlangsung. Tetapi, panic attack juga dapat terjadi pada saat yang tidak terduga. Apabila hal ini terjadi, ketakutan dapat terbangun kembali bila terjadi situasi yang sama dan dapat mengarah menjadi suatu fobia atau kecemasan umum.
Seberapa banyak orang yang mengalami fobia atau panic attack?
Beberapa jenis fobia lebih umum daripada yang lain. Lebih dari 10 % orang per tahunnya mengalami ketakutan untuk terbang (dengan pesawat), takut pergi ke dokter gigi atau takut melihat darah. Hal itu merupakan fobia yang umum. Fobia sosial lebih jarang terjadi, mempengaruhi sekitar 25 dari 1.000 orang setiap tahunnya. Agoraphobia terjadi pada sekitar 30 dari 1.000 orang setiap tahunnya dan jumlah itu meningkat tajam di antara kaum wanita. Panic attack mempengaruhi sekitar 10-30 dari 1000 orang dalam setahun - lagi-lagi, terjadi lebih banyak di antara wanita.
Apa yang dapat saya lakukan untuk menolong diri sendiri?
Langkah pertama adalah dengan menghentikan siklus yang telah terbangun. Mempelajari teknik relaksasi adalah sebuah cara yang baik untuk melakukan hal ini. Tubuh Anda secara insting dapat terpacu - hal itu bukanlah respon yang kita pelajari - dan relaksasi harus secara sadar dipelajari.
Terdapat dua tipe latihan relaksasi - ‘pikiran yang terarah' (guided fantasy) dan ‘tekanan otot' (muscle tension). Relaksasi bukanlah penyelesaian masalah yang cepat. Seperti keahlian lainnya, hal ini hanya dapat tercapai dengan latihan. Anda dapat menggunakan diagram pemantauan pikiran untuk mengukur apa yang terjadi di pikiran Anda dan seberapa panik Anda dalam situasi fobia. Kemudian, lakukan teknik relaksasi, coba untuk mengurangi kecemasan Anda dalam situasi fobia. Semua ini juga membutuhkan latihan.
Rabu, 21 November 2007
adeeemmmmm
Jumat, 16 November 2007
Confuse
KEnapa sih aku selalu sulit utk mengambil keputusan ????? confuse....confuse....dan confuse.................... Pusing deh. SEpertinya sudah agak terlambat utk mengambil keputusan, jadi mau tidak mau harus dijalankan, kecuali udah bener2 ga bisa lagi. Perlu pemikiran yang panjaaaaang banget supaya ga nyesel.
Rabu, 14 November 2007
cat lover

Kucingnya lucu ya ..... gemesssss.....pengen gendong.....pengen cium.....pengen diajak bobo :-))
waktu aku belum berkeluarga dan tinggal bersama ortu, aku punya kucing lumayan banyak. Keluargaku memang cat lover. Kami ga tegaan kalo ada kucing terlantar. Diantara kucing2 itu, ada satu kucing jantan yang sangat dekat denganku, bapakku memberinya nama tirung......namanya aneh, artinya mati urung (ga jadi mati), krn sudah berkali2 sakit dan hampir mati tapi akhirnya sehat. Sejarahnyapun agak beda dari kucing2ku yg lain, tirung aku temukan saat malam hari aku pulang kerja, hujan deras, aku mendengar suara anak kucing ngeong2, aku cari2 dan aku temukan...............basah kuyup, masih keciiil banget, mungkin baru bbrp hari lahir, matanya masih belum terbuka, aku kasihan dan aku bawa pulang.
Setelah sampai di rumah aku keringkan badannya dengan hair dryer, aku selimuti dan beri susu hangat, dan tidur bersamaku. Melihat kondisinya waktu itu, aku tidak berharap banyak, jadi kalopun besok2 dia sakit krn kehujanan dan akhirnya mati, paling tidak anak kucing malang ini sempat merasakan kehangatan. Diluar dugaan besoknya dia sehat..........ooouuu senangnya. Seperti namanya, saat masih kecil tirung seringkali kena flu dan hiks....sptnya mau mati. Namun selalu bisa sembuh. Dia sangat nurut dan dekat denganku, dia tau sekali jam2 aku pulang dan selalu menungguku di ujung gang dan ikut pulang sambil sesekali badannya digesekan manja ke kakiku. Kalau aku bicara, dia seperti mendengarkan omonganku, dia akan diam sambil memperhatikan wajahku dengan mimik lucu.
Suatu hari setelah dia mulai remaja dan puber, tiba2 tirung tidak lagi menjemputku, aku pikir dia lagi dekat dengan kucing cewek tetangga, namun setelah ditunggu 2 hari.....3 hari.....1 minggu......dia tidak juga pulang...... AKu mencarinya kemana2, memanggil2 namanya......setiap ada kucing yang warnanya spt tirung, aku memanggilnya.....tapi itu bukan tirung.
hu..hu...hu....hu....entah berapa lama aku menangisi kepergiannya.................aku seringkali bermimpi bertemu tirung. Tirung........ kamu kemana ?? ketabrak ?? diambil orang ?? tidak tau jalan pulang ??? Entah berapa lama juga akhirnya aku bisa menerima kenyataan bahwa tirung sudah tidak bersamaku lagi.
Kepergian tirung membuatku tidak mau lagi terlalu dekat dengan kucing, bukan sudah tidak suka lagi sama kucing, namun aku tidak mau terlalu sayang, terlalu cinta, krn walau cuma seekor kucing tetap saja begitu menyakitkan ketika kehilangan.
Edukasi pikiran bawah sadar anak
by : ariesandi / Januari 29, 2007
Kita semua tahu bahwa manusia mempunyai dua macam bentuk pikiran yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar mempunyai fungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan dengan data yang sudah ada dalam memori kita, menganalisa data yang baru masuk tersebut dan memutuskan data baru akan disimpan, dibuang atau diabaikan sementara.
Sementara itu pikiran bawah sadar yang kapasitasnya jauh lebih besar dari pikiran sadar mempunyai fungsi yang jauh lebih komplek. Semua fungsi organ tubuh kita diatur cara kerjanya dari pikiran bawah sadar. Selain itu nilai-nilai yang kita pegang, sistem kepercayaan dan keyakinan terhadap segala sesuatu juga disimpan di sini. Memori jangka panjang kita juga terdapat dalam pikiran bawah sadar.
Pernahkah anda perhatikan seorang anak kecil yang akan tidur dan selalu mencari bantal ”kumal” kesayangannya ? Darimanakah pikiran ini muncul dalam benaknya ? Siapakah yang mengendalikannya ? Itulah hasil kerja pikiran bawah sadar.
Pikiran bawah sadar mengendalikan hampir sembilan puluh persen pemikiran dan tindakan kita. Ingin contoh nyata ? Baiklah, bayangkan tiba-tiba di depan anda saat ini, pada jarak kurang lebih 3 meter, anda melihat sekelebat bayangan yang mirip seperti bentuk ular. Anda menajamkan pandangan untuk melihat lebih jelas dan ternyata …… memang benar …. itu ular kobra yang tampaknya kelaparan. Tubuhnya yang sebesar paha orang dewasa bergerak lambat namun pasti. Suaranya mendesis membuat bulu kuduk berdiri, pandangan matanya sangat bengis dan gigi taringnya mencuat keluar disertai lidahnya yang menjulur-julur siap menerkam apapun yang bisa membuatnya kenyang. Apa yang akan anda lakukan ?
Yaa …. hampir sebagian besar dari kita akan memutuskan untuk lari. Ooops maaf jika anda wanita, anda akan berteriak dulu, bukan ? Baru setelah itu lari. Mengapa ? Karena sebagian besar dari kita tidak pernah tahu bagaimana menaklukkan kobra. Bahkan seandainya tahupun kita lebih baik lari dan mencari bantuan daripada melawannya bukan ?
Bagaimana jika seandainya anda dari kecil sudah diberitahu bahwa kobra itu mendatangkan rejeki. Orangtua anda mengatakan bahwa rumah yang ditempati sekarang adalah hasil dari berjualan kobra. Apakah anda akan lari jika menemui kobra di depan anda ? Tidak bukan ! Anda pasti berpikir ” wah ini rejeki, tanpa dicari muncul di depan mata ”.
Apa yang membedakan situasi di atas ? Yang membedakan adalah program pikiran yang ada dalam pikiran kita. Program tersebut mengendap dalam bawah sadar dan akan terpicu keluar oleh suatu kejadian tertentu. Ada banyak sekali program di dalam bawah sadar kita. Pernahkah anda memperhatikan program seperti apa yang masuk dalam pikiran kita setiap harinya ?
Pikiran bawah tidak bisa menolak apapun yang anda masukkan melalui kelima panca indera anda. Bahkan hal-hal yang tidak anda perhatikan secara sadar akan terekam dalam pikiran bawah sadar.
Bagaimana dengan anak-anak kita ? Kebanyakan orangtua sekarang sibuk memberikan ’makanan’ pada ’pikiran’ sadar anaknya. Anak usia 3 tahun – 4 tahun sudah dibawa pergi ke tempat les bahasa inggris, les mandarin, les menulis, membaca dan lain sebagainya.
Mereka mengatakan itu sudah tuntutan jaman. Oh ya…. jaman yang mana ? Dan tuntutan seperti apa persisnya ? Pernahkah anda secara serius memikirkan apa yang sebenarnya dituntut oleh anak-anak kita ? Dan apa yang sebenarnya dituntut oleh sebuah kehidupan sukses ?
Marilah kita lihat sekeliling kita, ada banyak orang yang menguasai bahasa Inggris dengan bagus ( apalagi di Inggris dan Amrik sono ) tetapi tidak punya pekerjaan. Dan ada banyak orang juga yang hanya lulusan SMU dan kurang bisa bahasa Inggris tetapi sukses luar biasa ! Ada banyak sarjana S1, S2 bahkan S3 yang hidupnya biasa-biasa saja.
Apakah artinya itu ? Itu semua artinya adalah netral. Kesemuanya itu adalah variabel. Variabel bisa bernilai benar ataupun salah. Seperti x + 2 = 5 akan benar jika x diganti dengan angka 3 dan akan salah jika x diganti dengan angka 4 atau 8. Bahasa Inggris, Mandarin, gelar sarjana, IQ tinggi, masuk sekolah top dan nilai IP tinggi adalah variabel. Tidak menjamin 100% hidup akan sukses !
Lalu apa yang menjadi variabel tetap ? Apakah ada ? Tentunya ada. Lihatlah kehidupan ratusan milyuner dalam dan luar negri, pelajarilah dan tariklah kesimpulan adakah variabel tetapnya ?
Satu hal pasti yang dimiliki oleh mereka semua adalah konsep diri sehat. Di manakah konsep diri sehat ini tersimpan ? Dalam pikiran bawah sadar.
Inilah yang harus kita jaga dalam diri setiap anak. Dengan konsep diri sehat hampir semua hal dapat dilakukan oleh seorang anak yang tumbuh menjadi dewasa. Jika kita berbicara konsep diri sehat kita bicara diri ideal sehat, citra diri sehat dan harga diri sehat. Dan jika kita bicara tiga hal ini kita bicara seorang yang memiliki impian, yang bersedia mewujudkannya dalam kehidupan nyata dengan apapun yang ada di tangannya. Kita bicara mengenai semangat tinggi, keyakinan dan kepercayaan positif, kreativitas tanpa henti, keuletan, keberanian menempuh perjalanan hidup, ketegaran seorang manusia dan kemampuan untuk mempelajari apapun juga yang diperlukan untuk sebuah kesuksesan !!
Apakah konsep diri positif ini bisa dikondisikan ? Ya !!! Anda bisa menciptakan kondisi yang mendukung. Caranya adalah dengan memahami bagaimana konsep diri ini tertanam dalam pikiran bawah sadar. Konsep diri tertanam dalam pikiran bawah sadar melalui pengulangan, pengalaman, tradisi dan model dari figur yang memiliki otoritas di mata anak.
Perhatikanlah apa yang berulang kali anda lakukan, ucapkan dan pikirkan terhadap anak-anak. Itulah yang nantinya akan membentuk mereka. Dari bahan dasar ini mereka akan mengembangkan diri mereka melalui pergaulan dengan lingkungan.
Mengapa bayi 1 tahun belajar berdiri dan berjalan ? Karena sejak ia bisa menggunakan matanya ia melihat orang-orang di sekitarnya berdiri ditopang kedua kaki dan berjalan. Cobalah anda bayangkan bagaimana jika sang bayi hanya melihat orang merangkak sejak ia bisa menggunakan matanya untuk melihat.
Sejauh apakah pengaruh program pikiran bawah sadar ? Program pikiran bawah sadar akan menentukan sukses tidaknya kehidupan seseorang. Dengan cara lain bisa dikatakan kehidupan yang dijalani seseorang adalah perwujudan dari program yang ada di bawah sadarnya dalam tingkat tertentu.
HYPNOPARENTING
Education and Therapy Center
Dharmahusada Indah Barat III / 51
Surabaya 60285
IndonesiaTelp. (031) 7155 9997 Fax. (031) 5938525
Website : www.HypnoParenting.com
Email : CS@hypnoparenting.com
Kamis, 08 November 2007
( Parenting ) Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
MENDIDIK ANAK TANPA KEKERASAN
by : Ariesandi / october 3, 2006
Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua ? Apa musti dipukul dulu baru nurut ? ” Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan ? “. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.
Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya :
Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.
Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.
Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata,”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”
Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00 !!!
Dengan gelisah ayah menanyai saya,”Kenapa kau terlambat ?” Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”
Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”
Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.
Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.
Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi ? Ya bisa saja ! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.
Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya ? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.
Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya ( baby sitter ). Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.
Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab” ? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab ? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap ?
Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi ?
Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan ! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.
HYPNOPARENTING
Education and Therapy Center
Dharmahusada Indah Barat III / 51
Surabaya 60285 -- Indonesia
Telp. (031) 7155 9997 Fax. (031) 5938525
Website : www.HypnoParenting.com
Email : CS@hypnoparenting.com


